27 Januari 2023

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Pemekaran Desa O’o Bakal Digelar, Team BaraNusa Giat Pemetaan Tapal Batas

4 min read

DONGGONEWS.com.I Dompu, 241122 – Salah satu persyaratan pemekaran suatu wilayah adalah tapal batas karena hal tersebut bisa memicu konflik sosial di masyarakat jika batas-batas wilayah tidak clear lebih dulu. Maka dari itu Baranusa sebagai Team Khusus Pemetaan Tapal Batas diketuai oleh Evi Susanti didampingi Staf, Fudin dan kedua pejabat Desa O’o dan Katua antara lain Kades O’o, Wawan Wiranto, Burhan ( Salah satu Kaur) Desa O’o, Sekertaris Desa Katua, Fadlun, Babinsa, Serda Adnan, Bendahara Desa Katua, Syahril, Kadus, Agus dan Tamrin serta beberapa tokoh masyarakat diantaranya: H. Abdul Haris Kutsfi, Far’in, Junaidin, Tono, Abdul Baris, Khaves, dan lain-lain turun ke lokasi melakukan verifikasi factual (pemeriksaan tentang kebenaran laporan) suatu batas wilayah di Desa O’o dan Katua Kecamatan Dompu Kamis, 24/11/2022 di perbatasan kedua Desa tersebut.

Direktur Baranusa, Evi Susanti bersama pejabat kedua Desa O’o dan Katua membahas dan mendiskusikan terkait batas wilayah kedua Desa dimaksud agar jelas tapal batas sehingga ke depan tidak lagi masing-masing mengclaim diri.

Kedua rombongan pejabat Desa dan Team Baranusa memeriksa wilayah bagian timur Desa O’o sebagai wilayah batasan Desa Katua apakah batas wilayah itu bermasalah atau tidak, maka terjadi dialog sedikit alot, namun wilayah yang menjadi pemukiman warga O’o yang berjumlah 8 KK tidak ada masalah.

“Kalau pemukiman warga yang berjumlah 8 KK tidak ada masalah karena tanah wilayah tersebut kapling warga O’o dan batas wilayah kedua Desa diambil garis mengikuti parit alami secara leter L,” Tutur Ustadz Haris mewakili warga dan diamini Kades, Wawan Wiranto dan Sekdes Katua, Fadlun.

Tetapi dari pihak Desa Katua meminta bahwa Giling Iming masuk wilayah Desa Katua, pernyataan tersebut pihak warga O’o tidak keberatan dengan catatan bahwa batas wilayah Harus disepakati pengambilan titik kordinat yaitu antara tanah milik Ramli dan Ama Mi hingga belakang rumah Ustadz Abdul Haris.

Direktur Baranusa, Evi mengatakan kepada Kedua belah pihak bahwa syarat pemekaran suatu wilayah harus memenuhi beberapa kriteria termasuk tapal batas semakin banyak dokumen, maka proses akan mudah. Maka dari itu diminta kepada kedua belah pihak untuk saling memahami kebutuhan satu sama lain. Karena Desa O’o mau dimekarkan, secara defacto batas wilayah harus jelas.

“Pementaan tapal batas semakin banyak dokumen yang diperlukan, maka akan mempermudah proses,” kata Evi.

Dia juga minta dari masing-masing kedua belah pihak untuk legowo menerima apa yang menjadi kesepakatan walau dalam tahap proses sehingga niat pemekaran Desa O’o bisa terlaksana.

Lebih lanjut Direktur Baranusa, Evi Susanti mengatakan bahwa “Seperti apa yang menjadi harapan Kades untuk verifikasi lapangan karena pihak Pemdes Katua belum menyepakati apa yang diinginkan oleh O’o, maka hari ini kita mau ada kesepakatan apakah ya atau tidak, itu kan dalam tahap proses, maka untuk menjaga hal lain yang ditimbulkan, kita harus sepakati dulu.” Harap Evi.

Cuman, lanjut Evi, “Kita minta kelegowoan antara Kades Katua dan O’o apa yang yang bisa kita sepakati atas masalah ini karena hal ini adalah menyangkut pemekaran, kan itu dasarnya O’o ini memetakan wilayah. Jadi ketika itu momerandum, moratorium akan keluar lagi setelah Desember akan menjadi ketakutan. Maka kita minta dalam waktu dekat ini bisa ketemu lagi apapun hasilnya.” Pinta Direktur Baranusa penuh harap.

” Kedua belah pihak agar legowo menerima apapun hasil keputusan walau masih dalam proses,” ungkap Evi.

Direktur Baranusa minta tanggapan dari kedua pimpinan Desa untuk menyampaikan bagaimana solusi terbaik atas masalah tapal batas ini. Maka Sekdes Katua yang didelegasikan oleh Kades mengatakan bahwa “Maaf pak Kades,” ungkap dia pada Kades O’o, kalau saya mengambil lebih jauh dalam menentukan sikap, namun secara pribadi dia tidak ambil pusing dengan semua ini karena wilayah yang dipersoalkan itu sudah milik warga O’o, tanah.warga O’o walaupun dulu milik Katua, setelah itu kan sudah dibayar semua nih. Kecuali tanah ini masih diduduki warga Desa Katua dan warga di 8 KK ini berKTP O’o.” Tutur Sekdes, Fadlun saat pertemuan di TKP.

Lebih lanjut Sekdes Katua menekankan bahwa “Jika saya harus paksakan mereka ( warga tapal batas, 8 KK) harus ke Katua, warga untuk semuanya tidak mau, Gimana ? dan apa yang menjadi dasar saya mengambil keputusan sementara 75 persen wilayah ini adalah milik warga O’o?, Ungkap Fadlun tanda tanya (?).

Sekdes Katua, Fadlun juga bahwa “Jika batas wilayah tidak diclear lebih dulu, akan berpotensi konflik sosial,” ucap Fadlun.

Sementara itu, Kadus Katua, Agus dan Tamrin menambahkan bahwa “Batas wilayah yang menjadi topik pembahasan saat ini harus dirembuk dulu dengan jelas agar tidak menyisakan masalah di kemudian hari,’ tambah dia.

Hal senada juga dituturkan salah seorang warga O’o, Khaves “Kalau tapal batas tidak diselesaikan dengan seksama, maka akan menimbulkan masalah bagi generasi berikutnya,” ungkap Khaves.

Kades O’o, Wawan Wiranto menerima Dengan legowo apapun menjadi kesepakatan bersama. “Saya legowo menerima apa yang menjadi kesepakatan bersama,” ucap Wawan singkat padat.

Dialog antara kedua belah pihak akan dilanjutkan beberapa hari ke depan karena kepala Desa Katua tidak hadir saat dialog berlangsung, namun didelegasikan pada Sekdes. Maka Sekdes Katua tidak bisa mengambil keputusan tanpa Kades terkait dialog batas wilayah.

Direktur Baranusa, Evi Susanti menyarankan pada kedua belah pihak agar tapal batas bisa diselesaikan secara musyawarah dan mufakat secepatnya karena Desa O’o akan dimekarkan.

“Kami sarankan agar masalah tapal batas kedua wilayah Desa O’o dan Katua segera diselesaikan secara musyawarah mufakat,” saran Evi. ( DNC-005 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *