27 Januari 2023

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

JANGAN-JANGAN AKU SEORANG MUNAFIK Antara Muslim Ritualitas dan Muslim Spiritualitas-Muhasabah Para Cendekia

6 min read

BANYAK ayat Al-Quran menyebutkan tentang sikap kaum musyrikin. Ketika didakwahkan kepada mereka kebenaran. Maka mereka akan menjawab,“Sesungguhnya nenek moyang kami tidak pernah seperti ini. Bapak-bapak kami tidak pernah mengerjakan seperti itu. Sesungguhnya inilah yang dilakukan nenek moyang kami. Bukan seperti yang kamu dakwahkan”.

Nenek moyang orang dulu yang menurunkan kita. Arti lain dari nenek moyang menurut kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI) adalah leluhur.

Ungkapan di atas dalam versi “jahiliyah moderen” cenderung dinisbatkan pada kelompok dan golongan, Ormas aliran atau sektenya.

Jika kita amati ragam dinamika internal ummat Islam saat ini. Antara lain berkenaan dengan perkara ubudiah dapat di petakan secara garis besar terdapat dua kelompok besar.

Kelompok pertama, muslim yang mengamalkan agama ini semata-mata hanya bersifat rutinitas. Atau dengan kata lain hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Pada kelompok ini ditemukan “terminologi baru” yakni abangan. Maka kita mendengar muslim abangan untuk “penanda” pada muslim yang tidak paham tentang hakikat dia berIslam tetapi masih melaksanakan perintah.

Tapi ada juga muslim cluster paling rendah setelah Islam abangan adalah “Islam KTP”.

Bedanya Islam KTP dengan Islam abangan adalah pada “simbolisasi amal”. Termasuk dalam penampilan berbusana muslim saat ada butuhnya pada ummat Islam.
Muslim kartu tanda penduduk (KTP) tidak shalat, tidak berpuasa.Tapi secara KTP muslim.

Ciri khas kelompok abangan atau KTP ini cenderung “transaksional” dalam ibadah. Apa itu transaksional dalam ibadah?

Seseorang beribadah dia berhitung berapa nilai pahalanya. Jika angka wirid hingga sekian juta kali. Maka maqomnya mengaku bisa berjumpa Allah.

Bisa juga misal pada kasus “kecelakaan ibadah” yang terjadi pada Yusuf Mansyur. Konsep yang ditawarkan dalam sedekah Yusuf Mansur, mengutip spirit QS-2:216. Tetapi tidak dijelaskan hakikatnya. Konsep ini seolah seorang berniaga langsung dengan Allah sebagaimana seorang berniaga dengan manusia. Namun porsi ikhtilar diabaikan. Hasilnya tidak mau capek pingin dapat harta banyak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. QS-2:261.

Selain transaksional kelompok ini tertutup bagi saudara muslim yang lain dalam interaksi ubudiah. Ciri lain yang menonjol kelompok ini ibadah adalah sekedar gugur kewajiban tidak taat adab. Maka hasil atau buah ibadah tidak penting. Alias bersifat ritual.

Ritual artinya pengulangan sesuatu tanpa dapat memaknai hakikat. Dalam bahasa hukum bersifat normatif formalitas.

Misal dalam aplikasi rukun Islam, mereka bersyahadat tapi parktek kesyirikan masih dijalankan. Shalat, puasa, haji dan zakat tidak merubah dan memberikan dampak pada akhlaq mereka kearah lebih baik.

Belajar dari masa kegelapan sebelum Islam datang

Orang musyrikin, munafik zaman jahiliyah jika bersumpah mereka membawa nama Allah. Jika ditanya siapa yang menciptakan langit dan Bumi? Mereka menyatakan Allah. Kenapa mereka dihukumi musyrik? Karena mereka menduakan Allah. Sikap mendua itulah yang dibersihkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dakwah pembersihan tauhid menegakan tauhid, melurukan tauhid inilah yang menjadi misi seluruh nabi dan rasul.
Allah SWT memilih seorang yang sangat istimewa kepribadiannya. Sempurna akhlaknya hingga siapapun yang mengenalnya. Bahkan kaum kafir, musyrikin. Sampai lintas agama beliau dikenal dengan gelar yang tidak dapat diperoleh dari universitas ternama dimana pun di dunia yaitu AL AMIN.

Ini sejenis deklarasi terbesar berbasis nurani (sunatullah) diatas akhlaq tanpa proses asesmen dan verifikasi. Hingga pemilik jiwa dan raga, penciptanya juga memberikan apresiasi dengan julukan KHULUQIN ADZIM. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. QS 68 : 4.

Dipilihnya seorang hamba Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang ummi adalah cara Allah mempersiapkan pribadi pilihan. Agar kelak manusia ketika di ajak olehnya tidak ada yang mendustainya.

Fakta terjadi sebaliknya dalam rangkaian dakwah. Pengakuan itu ingin dikubur atas nama suku, kelompok, dan tradisi. Puncaknya atas nama nenek moyang.

Lalu pribadi yang mulia dituduh orang gila, tukang sihir, pemecah belah.

Alasan nenek moyang ini yang menjadi penghalang Fir’aun, Namruz, selamat dari siksa dan azab yang menghinakannya.

Musa ini adalah ancaman atas tradisi dan kebiasaanmu yang utama wahai Firaun. Firaun menawarkan diri biar aku yang membunuh Musa.

Dan Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesarnya,“Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” QS-Gafir:25.

Nabi Ibrahim berkata kepada kaumnya, “kalian ini kaum yang betul betul sakit jiwa.” Kenapa kalian menyembah sesuatu (patung) yang tidak memberikan manfaat dan mudharat bagi kalian. Kaumnya menjawab,”ini karena tradisi nenek moyang kami.

“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” QS. Al Anbiya’: 52.

Kaumnya menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” QS. Al Anbiya’: 53.

Demikianlah kaumnya, mereka tidak memiliki alasan terhadap perbuatan mereka. Selain mengikuti nenek-moyang mereka yang sesat.

Ibrahim berkata lagi, “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Al Anbiyaa’: 54.

Bagi kita yang muslim sekarang. ini pelajaran yang wajib diimani. Karena bagian dari rukun iman, bahwa qur’an bercerita agar tidak meniru bentuk dan cara dzolim tersebut yang merupakan konsekwensi dari iman kita kepada kitab kitab.

Setidaknya kata nenek moyang disebut hingga 17 belas kali. Sebuah perkara disebut lebih dari satu kali menandakan perkara tersebut sangat penting.

Dengan demikian apa hakikat ber Islam?

Dari makna harfiah maupun bahasa menuju pada satu substansi bahwa dampak dari berIslam itu ada di dalam seluruh aktifitas kita. Bekerja, berdagang, berinteraksi dengan manusia. Bahkan alam semesta. Inilah maksud dari muslim spiritual, sinkronisasi perintah dengan amal. Itu sebab iman diucapkan lisan, dibenarkan hati dan diamalkan dalam prilaku. Jika tidak kita akan menghadapi resiko besar bernama kemunafikan.

Misalnya perintah nabi menjaga lisan itu, maka kita tidak boleh menggunakan untuk perkara keji dan mungkar (ghibah, berdusta, menghina, mengganggu orang lain). Seorang muslim adalah yang selamat lisannya bagi muslim yang lain. Allah SWT menyinggung keras mereka ini.

Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. QS 8 : 35.

Ummat yang mengamalkan agama ini mengutamakan ritualistas (woro woro, ramai dan hiruk pikuk tapi dangkal makna dan aplikasi).

Doa mereka tidak berefek pada perilaku setidaknya menghindarkan diri dari residu kebisingan. Zikir mereka membuat hati melah menjadi resistance pada kebaikan yang datang dari luar dirinya. Karena tidak paham hakikat yang dilafadzkannya. Tetapi mengejar jumlah capaian dalam angka kalkulator yang diucapkannya.

Berjalan seharian membantu seseorang yang membutuhkan lebih baik dari berzikir sendirian selama 1 bulan (ada yang menyebut 3 bulan) di masjidku. Demikian Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita.

Di Indonesia perubahan keadaan politik nasional juga mempengaruhi perkembangan dua kelompok ini. Yang pertama semakin kuat (celakanya) dijadikan alat untuk menyerang kelompok spiritualitas.

Saya menyebut jahiliyah moderen jauh lebih bahaya dari jahiliyah sebelum Islam. Saya merujuk pada logika tadabur ayat 113, QS surah Ali Imran

Allah menyebut bahwa sebelum qur’an datang manusia disebut jahil. Saling membunuh, bangga antara kelompok, perempuan di hinakan, parah sekali. Kondisi ini Allah menyebutnya dengan kalian berada ditepi jurang neraka. Lalu qur’an datang mempersatukan mereka. Mukjizat besar itu kini ada ditangan kita tapi sikap kita lebih jahiliyah.

Termuat dalam QS- Āli `Imrān :103, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Bukankah sebagian mereka (Islam ritual) memaknai secara terbalik. Pesan ayat ini atas nama kelompok, golongan, tradisi, guru, dan kiyainya? Mereka ini jika ditantang untuk menggunakan ilmu untuk menyelesaikan perbedaan mereka akan menuding balik dengan label label aneh terhadap mereka yang mengajaknya.

Hati hati ada resiko semakin jauhnya hidayah. Nauzubillah minjaalik!

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. QS-Al Qoasas 50.

Target kita adalah naik kelas. Dari muslim ritualitas menjadi muslim spiritualitas. Dari muslim menjadi mukmin. Itulah esensi dari muslim spiritualitas. Sehingga pada titik akhir menjadi cahaya bagi alam semesta. Dalam bungkusan indah rahmatan lil ‘alaamiin. Menjadi muslim ritualitas kita akan berhadapan pada musibah besar kemunafikan. Kaum munafikun memilih mengamalkan perintah dan larangan agama sesuai kenyamanan diri dan kelompoknya.

Wallahu a’alam
Allahulmusta’an

Salam Fastabiqul Khairaat
Salam hangat NKRI

Dr. H. Salahuddin Gafar, SH.,MH. Cendekiawan Muda Muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *