30 November 2022

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

JIKA TIDAK BISA MEMBAYAR LEBIH, JANGAN AMBIL KEMBALINYA

2 min read

Ketika medsos membunuh kepekaan kita

HEMAT saya ini rahasia menyuburkan rezeki. Saya mengambil barokah dari pesan nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Misal, muliakan tamu. Sedekah terbaik adalah memberi makan.

Di beberapa resto Kaki Lima sampai resto Bintang Lima. Saya melayani tamu karena saya tahu rahasia keajaiban berkaitan rezeki melalui sedakah makanan.

Ada rahasia lain yang saya ajarkan ke anak istri. Saat di rumah makan atau resto. Bayarlah lebih atau jangan ambil kembalian.

Disruption era mengharuskan semua transaksi dengan berbagai hal baru. Pembayaran tanpa cash adalah keharusan saat ini. Era gesek menggesek dengan kartu sudah mulai kurang. Juga setelah ada atau sisitim QRIS, tidak perlu datang ke meja kasir. Mereka yang akan datang ke meja makan kita.

Bagi semua orang ini pasti menjadi kemudahan. Bagi sebagian orang termasuk saya. Ada peluang kebaikan yang telah di geser atau hilang. Sedekah penuh barokah.

Hampir seluruh transaksi saya dengan resto. Saya pastikan dilebihkan atau pengembalian tidak saya ambil. Kenapa dan untuk apa? Memuliakan para pelayan. Namun dengan sistim yang canggih. Canggih itu sudah tidak bisa. Pakai strategi lain.

Ada cara rada ekstrim yang saya lakukan . Menawarkan makan bersama para pelayan restoran di satu meja bersama keluarga saya. Ini salah satu cara mengundang air mata bahagia. Namun tidak banyak yang berhasil. Saya tahu sebabnya. Sanksi berat bagi pelayan oleh pemberi kerja.

Para pelayan resto itu bagi sebagian orang adalah pembantu dan pelayan. Tidak salah juga. Tapi bagi saya tidak. Sebagai sesama manusia ada kepekaan kita. Yang hilang ketika makanan yang enak enak itu mereka anter ke meja kita. Para pelayan hanya menikmati dengan menatap. Dan mencium aroma makanan enak yang dia suguhkan. Rasanya tidak tega!

Salah satu strategi menyenangkan mereka adalah menyiapkan tips cash. Kadang saya traktir direstoran sebelah (competitor). Dia bisa makan saat dia bubar. Dia lari dari resto tempat dia bekerja. Bagi saya, ini cara mengharukan saat melihat orang bahagia menikmati yang dia inginkan. Hanya tersirat dalam tatapannya ingin. Itu sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan jika kita masak perbanyak kuahnya. Agar bisa dibagi pada tetangga sebelah yang hanya menikmati wangi aroma masakan kita. MasyaAllah, allahumma shalli Alaa Muhammad 😭😭

Saya menemukan beberapa orang yang marah. Bahkan ngamuk saat pesanannya salah. Atau terlambat.

Saat ini pelayan telah dibebani pekerjaan tambah baru. Memaksa mereka untuk memotret melalui smart phone kita. Kadang ada orang yang marah. Dengan berkata, bisa foto nggak! Ih kamu nggak ngerti ambil gambar yang pas deh. Padahal muka dia emang jelek.

Begitulah kita. Era medsos telah menggeser kepekaan kita. Goresan ini saya akhiri dengan pesan,

Jika tidak bisa membayar lebih Jangan ambil kembaliannya.

Nasihat senada saya sampaikan kepada pengelola masjid. Jika tidak bisa memakmurkan masjid. Jangan larang orang lain yang tidak sepaham denganmu memakmurkannya.

. (drsg@spiritualmotivation).

Salam Fastabiqul Khairaat

Salam Hangat NKRI

Dr.H.Salahuddin Gafar, SH.,MH
Cendekiawan Muda Muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *