27 Januari 2023

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Rahasia Dikabulnya Do’a, Jangan Dikte Tuhan Saat Meminta

9 min read

BERAGAM “dinamika” terkait pandangan seorang hamba tentang interaksinya dengan Rabbnya. Salah satu terkait perkara hajatnya melalui do’a.

Terkait do’a, ada orang yang berkata; “rasanya saya sudah lelah berdo’a tapi belum dikabul kabul.” Ini salah satu dinamika.

Ketika ada orang mengeluh. Maka ada potensi lahir sifat putus asa. Putus asa atas rahmat Allah sangat dilarang.

Memang harus dipahami, kita sebagai hamba memilki keterbatasan. Itu sebab ada fasilitas doa, sebagai sarana terbaik menembus keterbatasan. Disanalah semua harapan digantungkan sepanjang waktu tanpa batas. Dan Tuhan Yang Maha Ahad melayani terus karena sifatNya laa tak khujuhu sinnatun walaa naum (selalu terjaga dan tidak lalai).

Nabi Yakub AS menasihati anak anaknya atas usaha mereka berjuang menemukan Nabi Yusuf AS dan adiknya menuju Mesir.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. QS,12 :87.

Putus asa dari rahmat Allah Ta’ala termasuk dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
“Ibrahim berkata; Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.” QS, Al Hijr: 56.

Dan firman-Nya:
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”QS, Yusuf : 87.

Maka berputus asa dari rahmat Allah dan merasa jauh dari rahmat-Nya merupakan dosa besar.

Kewajiban seorang manusia selalu berbaik sangka terhadap Rabb-nya. Jika dia meminta kepada Allah, maka dia selalu berprasangka baik. Bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Kapan dan dalam bentuk apa, adalah sebuah rahasia.

Kenapa ada sikap putus asa? Umum karena rendah qualitas keyakinan seseorang atas ke Maha Kuasanya Allah Subhanahuwataala. Disebabkan dominasi logika atas wahyu.

Misalkan terkait rezeki, ada anggapan saya kok rajin salat, puasa dan lain-lain. Tapi kok rezeki tetap susah. Sementara si fulan tak pernah shalat, puasa, tukang mabok, dan seterus. Tapi kok rezekinya lancar.

Begitulah logika merusak keyakinan seorang hamba pada Tuhannya. Padahal dalam pandangan wahyu sebalik, belum tentu. Karena yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah. Begitu pun sebalik.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” QS, Al Baqarah: 216.

Tapi ada juga anjuran orang-orang soleh, jika demikian logikanya maka kita disuruh memeriksa apakah shalat dan puasa kita sudah baik?

Bahwa ada jaminan sempurna Allah Subhanahuwataala akan berikan apapun bahkan tanpa kita minta jika ibadah shalat puasa dan ibadah lain bagus.

Lalu gimana? Ya tadi tugas kita berprasangka baik. Orang yang tidak shalat pekerjaannya mabok, dan lain-lain. Tapi rezekinya moncer. Itu disebut istidraj. Atau azab yang ditunda atau diperpanjang. Karena tidak ada berkah atas hartanya. Lalu nanti hisabnya berat.

Bagi yang tidak diberikan harta sementara rajin shalat mendapat keuntungan yang banyak. Diantaranya, meraih pahala sabar. Setiap saat selama dia ridho atas takdirNya baik maupun takdir yang buruk. Islam enak banget yah. Semua keadaan baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” HR.Muslim, shahih.

Dalam kutipan buku Spiritual Motivasi ada coretan saya; “Doa itu dikabul saat kita butuh bukan saat kita minta.” drsg@spiritualmotivation.

Kutipan ini lahir dari kontemplasi terkait perkara adab yang saya renungkan. Bahwa dalam proses memberi dan meminta ternyata perkara etika atau adab menentukan hasil atas prosesi meminta.

Misal, harus pada waktu yang tepat, tempat yang tepat, cara yang tepat.

Dalam hal doa dimulai dengan cara yang tepat. Maka tidak ada doa yang sampai jika tidak dimulai dengan salawat (termasuk pujian). Bahkan harus dimulai dengan istigfar yang khusu’.

Selanjut harus dengan bahasa yang tepat. Itu sebab kita disuruh memaknai tadarruan wakhufyah (merendakan diri dan tunduk). Suara yang lemah lembut.

Soal waktu yang tepat pada prinsip, karena sifat Allah La Takhujuuhu sinnatun walanaum. Maka sepanjang waktu doa terbuka untuk diterima. Namun, jika bicara dikabul atau diijabah, ada spesial waktu. Antara lain antara azan dan iqomat, waktu hujan, 1/3 malam.

Perkara yang paling penting, kita harus kenal betul “tempat kita meminta” ada hakNya.

DARI Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;“Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab;‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda;“Sesungguhanya hak Allah atas para hamba adalah beribadah kepada-Nya dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak menyiksa hamba yang tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Satu tahun awal meninggalkan pabrik saya perbaiki betul soal prinsip ini (mengembalikan hak Allah). Hasilnya, fantastis. Ini bukan soal uzub! Tapi soal keyakinan.

Dahulu saya “menggadaikan” aqidah pada asuransi. Sehat atau tidak tergantung pada backup kantor. Ini mindset (pemikiran) ngaco. Lalu saya berdialog dalam do’a secara khusus ditempat dan waktu mustajab.

Mendikte Tuhan:
Kembali ke judul. Lalu apa iya ada orang mendikte Tuhan? Lalu apakah ada dinding pembatas? Sehingga doa seseorang tidak pernah dihiraukan Allah?

Pertama. Mari kita coba lebih lebih dekat. Terkait perkara dinding pembatas qur’an memberikan batasan secara limitatif (terbatas). Tidak ada doa yang dikabul jika sesorang mempersekutukan Allah dalam bentuk apapun. Misal, anda berdoa berpuluh puluh tahun. Tapi belum di kabul-kabul, umum orang seperti itu berkeyakinan ganda. Pada Allah Azzawajala minta dan getol. Tetapi juga dia meyakini makam orang soleh sebagai perantara. Atau harus melakukan ritual tertentu sebelum berdoa. Misal, menyerahkan sesajen.

Mengingat kemusyirikan adalah kekafiran. Maka do’anya pasti di tolak.

“Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” QS, 13:14

Kedua. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melalui hadist panjang itu, dimana ada orang mengangkat tangannya mengatakan Ya Rabb, Ya Rabb. Tapi pakaianya haram. Makanannya haram. Minumannya haram, bagaimana akan dikabul doanya.

Kembali ke soal dikte mendikte , apa iya ada hamba mendikte Tuhan?.

Ilustrasi ini membantu kita memahami maksud kata mendikte. Mungkin ada diantara sebagian kita mengalami kondisi berikut ini.

Seorang datang pada kita, kadang kita belum mengenal atau ada juga yang kita kenal.

“Bro bantu gue. Gue butuh uang segera, jumlah sekian. Nanti gue kembalikan tanggal sekian. Untuk keperluan anu, terpaksa banget neh, sudah darurat.”

Umum kondisi seperti ini kita refleks. Antara lain merespon, butuh berapa? Lalu kita tanya lagi, paling lambat kapan dipakainya? Beragam jawaban. Antara lain, Paling lambat Jam 12 siang hari ini. Yang membuat penasaran tentu kita kadang bertanya, untuk apa?

Pengalaman saya sebagai conselor jika suasana seperti itu yang terjadi, maka akan ada beberapa potensi sebab.

Pertama. Tagihan yang jatuh tempo. Kedua. Ada iming-iming bisnis dadakan dari orang lain. Ketiga. Ada motif itikad tidak baik. Keempat. Emergensi.

Dalam kasus ini, ada beberapa cara dikte si peminjam atau peminta.

Mintanya mendadak tanpa memahami psikologi tempat dia meminta. Sifat, mendesak, dan di deadline (batas waktu). Bagaimana probabilitynya? Sangat kecil untuk dikabul. Kenapa? Karena orang yang dituju merasa tidak ada pilihan waktu lagi. Maka cara paling aman monolak. Maaf yah belum bisa, saya bantu do’a saja.

Adakah hal yang sama kita lakukan pada Tuhan melalui do’a kita? Saya kira banyak!

Dalam konteks barang siapa tidak berterima kasih pada manusia. Maka dia tidak berterima kasih pada Allah. Maka potensi saling mendikte dalam memberi dan menerima akan banyak terjadi.

Maka salah satu hal terpenting memahami adab dalam proses meminta dan memberi.

Dalam bisnis jasa saya terus mewanti wanti. “Penilaian orang saat pertama kali berjumpa itu adalah kesimpulan awal yang beesifat final tentang kita.”

Soal cara meminta bagaimana? Saya mengingatkan, bahwa harus dimulai dengan membangun dahulu kehangatan. Ibarat kita menyalakan lampu di rumah kita. Tekan dulu saklar. Lalu lampu menyala. Setelah terang kita bisa memilih memanfaatkan untuk apa saja, bebas. Ini ilustrasi contoh. Bahwa didalam meminta itu presentasi dikabulkan bisa kita hitung.

Dengan kata lain chemistry (jalinan hubungan) harus tersambung dulu dengan jaringan pemberi. Dengan bahasa lain jangan to the point (langsung pada tujuan). Bahkan ada orang yang diberi sebelum dia meminta karena gerakan hati yang tergambar dari gerakan bahasa tubuh.

Di pabrik-pabrik saya ajarkan para atasan, agar peka sebelum anak buah itu meminta. Kok bisa? Ya di pabrik itu para staf itu upahnya rata-rata tanggal 20 dan 5 ke atas. Gajian tanggal 20, tanggal 5 sudah sekarat.
Begitulah kira Allah memperhatikan aktivitas kita. Maka ada yang dikasih sebelum di minta bergantung keseharian kita. Hambatan, jangan maksiat padaNya.

Ada nasihat orang kebahagian itu milik orang yang bersyukur. Dengan kata lain, jika kita tak bersyukur bahwa kita tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang ada ditangan kita.

Para koruptor itu mendadak menjadi soleh dan meminta kepada Tuhan dengan berbagai cara. Agar setidak-tidak vonisnya di pengadilan diperingan. Apakah boleh? Tentu. Allah Maha Pemurah.

Hanya saja tadi, ibarat orang baru kenal mau pinjam uang. Apakah langsung dikasih? Kan tidak. Setelah orangnya kita kenal baru kita kasih. Kita kenal kebiasaannya, pekerjaannya, bahkan kenal keluarganya.

Nah itu butuh waktu, baru kita kasih. Para koruptor itu selama ini tidak pernah mau kenal Tuhan saat dia mencuri. Lah kok tiba-tiba sok akrab sama Tuhan. Yang sudah kita kenal pun kita lakukan assesment (cari tau informasi) untuk apa uangnya? Berapa yang dibutuhkan dan untuk apa? Lalu kita analisa. Lanjut proses considerasi (pertimbangkan), kabul atau tolak.

Saya memulai, filosofi berikut ini soal keyakinan atas perkara rezeki.

Terima kasih, setelah diterima. Ya dibagi bagi lagi sebagai cara mengenal sang Pemberi Rezeki, agar kelak kita gampang kita meminta.

Soal kasih mengasihi saya punya standard (patokan) berdasarkan kriteria. Pertama. Ada kriteria minta dan ada kriteria minjem. Kapan saya kabulkan, setelah saya klik betul, terkait cara orang itu meminjam atau meminta. Kedua. Tujuan penggunaan. Ketiga. Kedekatan chemistry atas pribadinya.

Apakah cara ini terlalu menunjukan sikap sombong dan anti kemurahan hati . Saya berpendirian, tidak!

Qur”an memberikan panduan, jangan terlalu pelit, jangan terlalu boros.

Setiap yang kita keluarkan akan ditanya dari mana harta didapat. Kemana engkau belanjakan.

Orang-orang tertentu tidak selayak dibantu jika kemudorotannya nampak.

Standar kriteria ini untuk memutuskan, kapan kita kabulkan. Kenapa kita belum bisa mengabulkan dan berapa yang hendak kita kabulkan.

Saya pribadi untuk beberapa kriteria tidak pernah saya tolak.

Pertama. Untuk persoalan kemanusiaan (tanpa di batas suku dan agama) adalah satu visi dengan saya. Misal, orang itu menurut catatan saya akhlaqnya baik. Walau agamanya berbeda dengan saya.

Kedua. Untuk urusan akhirat. Untuk duq perkara ini, hanya ada dua kemungkinan. Saya kabulkan seketika. Atau saya runut skala perioritas.

Simpul tulisan ini adalah:

  1. Dalam meminta pada Allah kita harus taat adab. Taddarruan wakhuwyah itu adalah satu prinsip.
  2. Jangan melanggar apa yang Dia larang, Dosa besar dan dosa kecil. Jauhi yang subhat
  3. Harus tahu waktu, cara dan tempat yang tepat. Di Indonesia atau di negeri lain, selain kota suci Mekkah dan Madinah kita hanya punya waktu mustajab. Di sana kita punya waktu dan tempat yang mustajab.
  4. Mendudukan niat adalah perkara penting, dan Allah Maha Mengetahui.
  5. Memahami esensi do’a. Dimana tersinkronisasi (sejalan) mulut, pikiran lisan dan hati.
  6. Jangan pernah berputus asa untuk terus datang padaNya.
  7. Percayalah setiap do’a kita pasti dikabulkan. Hanya kita tidak tahu ada yang kabul segera, ada yang di runut berdasarkan skala prioritas.
  8. Pantaskan diri agar dikenal oleh si empunya wewenang atau si pengabulan permintaan kita. Hal ini pula berlaku dalam interaksi (hubungan) kita dalam perkara pinta meminta dengan sesama manusia.

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” QS,17:30.

Mungkinkah doa kita tidak dikabul? Ayat ini terus saya dawamkan (membiasakan) agar kita tahu diri dalam berdoa.

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” QS, 39 : 8.

Semoga tahun 2022 banyak doa kita yang dikabul untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.

Wallahu alam

Salam Fastabiqul Khairaat
Cikarang Sore Ini Diwaktu Mendung 020122

Dr.H.Salahuddin Gafar, SH.,MH
Cendekiawan Muda Muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *