21 Februari 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Kontestasi Iman Dalam IMAN (Part III)

4 min read

Oleh
Nida’an Nuruddin Zanky

  • Kiat Menangkan Pilkada

Dua hari lalu DONGGONEWS.com menurunkan artikel ‘Kontestai Iman Dalam IMAN’ ditulis secara bersambung. Kini membahas Pilkada.
Pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) sebuah keniscayaan peristiwa politik. Proses hasil Pilkada bisa didapatkan analisis. Mekanisme pasar juga pendekatan makro dan mikro ekonomi. Memenangkan Pilkada gubernur, bupati, walikota tak mudah. Membutuhkan analisis kalkulasi ekonomi akurat. Bagaimana mengurangi resiko biaya sosio ekonomi dan sosio politik.

  • Efisiensi penting berbagai bidang.

Baik pelaksanaan Pilkada, komisi pemilihan umum (KPU). Desk Pilkada) maupun cara memenangkan Pilkada. Koalisi-non koalisi partai pendukung. Tim sukses bakal calon gubernur, bupati, walikota Pilkada harus berpikir strategik. Efisiensi kurangi resiko. Meningkatkan keuntungan (to minimize risks and to maximizize profits).

  • Diperlukan survey.

Survei salah satu pendekatan cukup penting dilakukan. Supaya bisa dikalkusi peluang kandidat dalam pertarungan. Hasil survey tergambar data empirik, ilmiah dan dapat diuji kebenaran. Sehingga dapat mengukur kemungkinan potensi peluang kemenangan. Proses demokrasi dapat diukur, dikalkulasi, dan diprediksi dari hasil survey.

Salah satu aspek penting strategi pemenangan melakukan pemetaan kekuatan politik. Tim sukses memetakan posisi kandidat di mata masyarakat. Memetakan keinginan pemilih. Menggerakan mesin politik paling efektif menggunakan pengaruh tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh politik setempat sebagai pemancing (vote getter). Mediapun paling efektif buat kampanyekan kandidat.

  • Selanjutnya pastikan peta dukungan.

Preferensi pemilih terhadap kandidat berdasarkan aspek wilayah, usia, jenis kelamin, pekerjaan, agam. Afiliasi keagamaan dan organisasi sosial. Serta tingkat sosial ekonomi.

Banyak jalan menggoalkan pasangan calon diusung menang Pilkada. Baik legal maupun ilegal. Harus diakui pertarungan perebutan kursi kekuasaan apapun harus dilakukan. Yang penting kemenangan bisa didapat. Ibarat main sepak bola. Meskipun tidak mampu bermain terbuka pilih strategi bertahan. Kunci kemenangan harus dilakukan. Permainan politik bukan hanya permainan cantik diperagakan. Tetapi hasil akhir pertandingan menentukan sang juara.
Uang Bukan Segalanya

Sebelum masuk arena kontestasi melakukan pemetaan kekuatan parpol. Jangan sampai menumpangi perahu abu-abu. Yang tidak memiliki kekuatan pengaruh di masyarakat. Ini bertujuan pencalonan tidak hanya menghabiskan uang tanpa hasil. Bukan rahasia umum. Di dunia tidak ada siang gratis. Apalagi hidup di kota besar. Ke toilet wajib bayar.

Apalagi mau mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Mainkan opini kandidat memiliki dana besar. Kaya dan dermawan. Punya sponsor menyiapkan dana besar. Realitas di lapangan kekuatan uang amat dominan. Fakta yang tidak bisa dihindari. Masyarakat pragmatis terjadi akibat kesalahan pelaku politik tidak menempati janji politiknya.

Masyarakat sudah tidak percaya komitmen kandidat berslogan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Nyatanya. Seperti kacang lupa kulit. Sehingga memontum Pilkada dimanfaatkan masyarakat meminta kompensasi. Baik uang maupun imbalan lain. Logis masyarakat sekarang sudah cerdas. Berpikir siapa pun pemenang tidak berdampak positif kehidupannya.

Tetapi tidak semua masyarakat berpikir pragmatis. Melulu minta imbalan untuk memberikan suara. Bisa gunakan metodelogi dengan memahami kultur dan psikologi social. Jangan lupa bentuk pencitraan! Diskripsikan kendidat kita usung manusia setengah dewa. Dengan segala kesahajaannya.

Contoh, kampanye Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta. Relatif, tidak terlalu menghabiskan biaya mikat hati rakyat. Terutama figur Jokowi personafikasi sosok dewa penyelamat masyarakat. Merakyat, lugu berwajah ‘ndeso’.

Berikut, bentuk tim sukses. Tim yang dibentuk professional, amanah, solid. Cerdas, komunikatif, menguasai lapangan dan menguasi bidang dibutuhkan. Bentukan tim bisa dari partai penggusung dan partai pendukung. Atau tim khusus berasal dari kandidat. Paling penting orang-orang tepat berdasarkan pengaruh kewilayahan dan mobilitas di masyarakat. Contoh ada tim yang bergerak mengawal dari proses hingga akhir di KPU, PPK atau PPS. Tim sukses, relawan juga harus bisa memantau selalu situasi berkembang di masyarakat. Tempat paling strategis menyebarkan isu dan memantau. Seperti tempat keramaian, pasar, kantor, warung kopi, pos kamling, perkumpulan warga.

  • Manfaatkan media Sosial.

Media komunikasi sosialisasi jangan hanya andalkan media televisi, iklan di koran, spanduk, baliho, dan alat peraga lain. Tepi manfaatkan kemajuan teknologi. Seperti media jejaring sosil, internet, washAp, twitter, facebook, blogspot, BBM, websate. Tujuan memberikan akses informasi kepada masyarakat melalui dunia maya.

  • Bangun image baik tentang kandidat setiap ada kesempatan.

Baik saat bertatap muka masyarakat maupun melalui multi media. Prabowo, Anis Baswedan, Jokowi, berkampanye pintar memikat media massa dan media social. Hingga gerak-geriknya selalu menjadi bahan berita. Kampanye gratis melalui berita. Bahkan gurauannya menilai bobot berita.

  • Di samping bermain di media. Kandidat harus banyak berinteraksi.

Melakukan pertemuan secara langsung masyarakat. Agar mampu mendongkrak popularitas. Salah satu kunci kemenangan terukur popularitas dan elektabilitas sang kandidat. Jangan pernah lupa membaca karakteristik pemilih. Biasa antara daerah satu dengan wilayah lain terjadi perbedaan. Dengan mampu meneropong memudahkan kandidat merebut hati pemilih.

  • Strategi lawan incumbent perlu tenaga ekstra dan kecerdikan luar biasa.

Berkaca pada pengalaman data menunjukan hampir 75 persen Pilkada dimenangkan incumbent. Ini terjadi karena kekuatan finansial dan pengaruh ke urat nadi masyarakat lebih memadai. Karena itu gunakan semua peluang mengurangi pengaruh. Lalu buat isu yang mampu menjatuhkan. Image buruk di tengah masyarakat, sehingga masyarakat merasa antipati.

Membaca kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan setiap kandidat yang berlaga. Kemudian petakan (maping) memudahkan melakukan penyerangan.

Swot singkatan Strengths (kekuatan, Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang) dan Threats (ancaman). Teknik SWOT, Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset Universitas Stanford, 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500. (DNC-001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *