28 Februari 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Kemana Keberpihakanmu Berlabuh

5 min read

PERTANYAAN dalam coretan pagi ini lebih fokus diarahkan pada dimensi tauhid ditengah hiruk pikuk jelang pemilihan pemimpin dan wakil rakyat melalui peran kelompok ‘profesional terorganisir’ ( baca: partai). Jika menggunakan narasi politik praktis maka istilah kelompok ‘profesional terorganisir’ atau kelompok idelogi terorganisir dapat disandingkan dengan makna teks hizbun di dalam QS 58:22 dan QS 5 : 57. Maka muncul dua istilah yang populer hisbusyaithon dan hisbullah. Dua istilah yang sempat menimbulkan polemik karena dipahami secara ‘pragmatis’ oleh Amin Rais. Keduanya saya memaknainya sebagai sebuah sistem. Sangat dimaklumi dikotomi yang diciptakan Amin Rais karena bersumber dan berakar dari fakta. Bahwa para pelaku atau orang-orang di dalam kelompok ‘profesional terorganisir’ (partai) tersebut memang memprihatinkan perilakunya dipandang dari sisi etika dan moral.

Mereka menyesatkan kepentingan keadilan (konstitusi).
Jika istilah keberpihakan dibahas pada setiap momentum pemilihan presiden (Pilpres) maupun pemilihian legislative (Pileg) maka akan muncul berbagai narasi syaithoniyah (penyesatan) yang mengikutinya. Misal, jangan bawa-bawa agama kedalam politik jangan bahas politik di dalam masjid. Banyak yang tertipu dengan narasi tersebut. Padahal ini adalah proses ‘pembunuhan karakter’ bagi kaum muslimin. Karena bagi muslim (muslim benaran bukan abangan) Islam dan masjid adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisah satu sama lain dalam kehidupan mereka.

Keberpihakan bagi muslim adalah persoalan maha penting. Islam mencanangkan tepat dengan memulai pada hukum penting dan mendasar bahwa segala amal tergantung pada niat. Dalam kumpulan hadist arba’in ditempatkan pada hadist pertama. Hebatnya jika kita sudah berniat melakukan kebaikan maka dicatat sebagai amal kebaikan (pahala). Namun jika berniat melakukan kejahatan tidak dicatat sebagai kejahatan (dosa). Dan luar biasanya lagi amal (yang kita kerjakan itu) akan di balas secara proporsional. Kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan kejahatan juga dibalas kejahatan QS,17:7). Kapan dan dimana formula ini berlaku? Bagi semua muslim berlaku dimana pun. Dan pada semua ruang lingkup aktivitas dunianya. Ranah ubudiyah dan amaliah termasuk di dalam aktivitas politiknya.

Untuk menjaga kecondongan manusia agar tidak melakukan keburukan dan kejahatan itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wassalam memberikan ekstra proteksi kepada umatnya agar bertakwa dimana pun mereka berada ( اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ )
Soal keberpihakan itu. Islam tidak mengenal area abu abu. Karena bagi seorang muslim, terang itu jelas dan gelap itu juga nyata. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, diutus untuk membawa manusia dari kegelapan ke alam terang benderang demikian QS 2:257 (ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ). Sedangkan Abu Lahab dan para abu-abu yang lain itu sebaliknya. Membawa (bahkan memaksa) manusia dari cahaya terang benderang menuju kegelapan. Karena mereka bersekutu dengan kelompok “profesional terorganisir” (semisal dengan istilah sekarang, partai). Maka mereka mereka terus berpikir untuk melakukan makar targetnya satu memadamkan cahaya Allah SWT yakni dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.

Dalam kisah memilukan nabi dan rasul. Pertama. Kisah Nabi Nuh Alaihissalam dengan keluarganya merupakan kisah penting sebagai pelajaran bagi kita ummat kemudian. Masa 950 tahun dakwah tidak banyak yang mengikuti ajakan dari kegelapan menuju cahaya terang benderang argumentasi ditegakan dengan bahasa yang lugas. “Aku ini utusan Allah, aku tidak mengharapkan imbalan apapun imbalanku dari Allah SWT QS, 11:29). Maka perintah membuat kapal itu turun dan banjir besar itu menelan mereka yang tidak mengikuti cahaya (ajakan). Pada dimensi kekinian saya memaknai dengan satu pernyataan kapal itu adalah kelompok prefsional terorganisir (partai) Anak Nabi Nuh alaihissalam itu pelajaran penting. Soal penolakan keberpihakahan atas jalan terang dan pelajaran buat kita ummat kemudian.
Imam Attabary mengingatkan maksud Quran terkait hudan dalam kalimat hudanlinnas (petunjuk bagi manusia). Yakni agar muslim memahami secara runut akar, batang dan pucuk untaian pesan kitab suci.

Sehingga menemukan kebenaran sejati atas suatu persoalan. Disuatu sisi kita tidak bisa pungkiri bahwa upaya pencerdasan ummat diatas agamanya yang haq belum diarahkan pada satu napas yang sana dengan prosesi mencerdaskan kehidupan bangsa pada area ruhaniyah (substantif). Maka itu sebab dalam memilih pemimpin saja gagal menempatkan standardisasi agamanya sebagai patokan. Padahal ini perkara penting berkaitan dengan pertanggungjawabannya pada kehidupan selanjutnya (akhirat).
Secara limitatif Quran memberikan syarat dan kriteria didalam memilih pemimpin. Ibarat dalam memilih jodoh dalam filosofi Jawa, bibit bebet bobot. Mengingat karena manusia sempurna hanyalah Rasulullah SAW. Maka kita umatnya hanya bisa mengikuti kriteria beliau, baik tertulis maupun yang tak tertulis. Yang tertulis maupun yang tidak tertulis itu satu syarat mutlak. Yakni seorang muslim harus memilih pemimpin yang berpihak pada Allah dan Rasulnya. Hakikatnya untuk kebaikan seluruh ummat manusia bukan muslim saja.
Syarat dan kriteria ini bagi muslim yang lain mudah diamalkan tapi bagi sebagian lain berat. Ukuran berat ringan itu adalah IMAN bukan uang. Jangankan soal keberpihakan pada perkara besar (memilih pemimpin) saking telitinya dalam bergaul saja Islam mewanti-wanti agar kita memperhatikan dengan siapa kita berkawan. Di dalam Quran menggambarkan ada seorang yang menyesal dengan digambarkan dengan penyesalan yang besar dengan menggigit jarinya. Dan berkata, “seandainya aku tidak berkawan dengan fulan, seandainya saya mengikuti rasul (QS, 25: 27).

Makna kata rasul itu pada dimensi tata bahasa adalah utusan atau pengajak (pembawa risalah). Maka dapat dipahami bahwa setelah para Rasul itu berlalu kita diwariskan penerus para Rasul. Yakni ulama warastul anbiya bukan ulama warakusdunia. Ulama warasatul anbiya itu waras aturan. Maka dia mengajak kita ke pintu cahaya antara lain keberpihakan di dalam memilih pemimpin sementara ulamawarakus dunia mengajak ke pintu kegelapan. Karena dia menjual ayat dengan harga murah ditukar dengan keberpihakan pada pendukung kelompok sistem syaiton (versi Amin Rais: hisbusyaiton). Walaupun mereka berkumpul dalam kelompok “profesional terorganisir” (partai)
Lalu bagaimana dengan kondisi diatas kaitannya dengan kegiatan politik Indonesia antara lain dalam waktu tidak lama lagi akan melaksanakan pilpres dan pileg? Bagi setiap muslim itu jelas mana cahaya dan mana kegelapan. Jika ada yang berkata. Dalam politik itu abu-abu tidak ada yang pasti dan absolute ini masalah serius. Sebagai saudara muslim kita khawatir ini temannya abu-abu yang dahulu (Abu Lahab, atau Abu jahal). Wallahualam!

Yang jelas baginda Rasulullah sudah memberikan proteksi yang bersifat pre-emptive. Yang halal jelas yang haram jelas. Di antara keduanya ada yang samar. Jika ingin selamat maka tinggalkan subhat. Subhat di dalam memilih pemimpin adalah ketika kita tidak bisa menempatkan makna keberpihakan kita. Cluenya sudah saya ungkap silahkan dalami di ruang dan meja baca perpustakaan anda.

Dalam keterbatasan renungan saya yang kurang utuh. Pesan Nabi agar kita memilah dan memilih dengan siapa kita bergaul itu sekutu maknanya saat memilih pemimpin yang kita pilih. Seharusnya kita perhatikan juga dengan siapa dia (pemimpin) berkawan, dengan golongan siapa dia berkumpul. Ini bukan pesan saya tetapi pesan tauhid, yang sering kita ucapkan dalam shalat.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS 6: 162)
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَصِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
Kita selalu meminta jalan yang lurus bukan jalan yang bengkok tetapi saat kita mendapat keuntungan kita berbalik meninggalkan Allah dan Rasulnya.
Saya hanya melirik catatan harian saya. Jika di dalam shalat saja kita gagal memilih pemimpin shalat (imam). Lalu bagaimana kita bisa memilih pemimpin (presiden dan wakil rakyat? Itu miniatur penting dan pelajaran hebat dalam ibadah shalat. Kegagalan menegakan “esensi” shalat berjama’ah karena banyak yang shalat berjamaah mengamankan identitas kelompok dan sok suci dan tidak tahu diri lalu nyelonong menjadi imam”(drsg@spiritualmotivation)

Mungkin Pak Mahfud MD sudah mengintip motivasi harian saya sebelum memberikan sebuah cendera mata (replika anak tangga) di acara mata Najwa. Isi pesan pentingnya yang saya baca, tahu diri itu penting walaupun dipaksa menjadi “imam” ( pemimpin). Pelajaran ini sudah diajarkan kepada kita sejak dini di Mushala dan Langgar. Ditengah zaman yang dipenuhi banyak fitnah. Bukankah dulu kita sering mendengar teriakan agar membela wong cilik setelah berkuasa membela “wong licik”
Doa berikut harus sering kita baca.

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Artinya: “Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, 6:315)

Salam hangat NKRI
Salam Fastabiquk khairat

DR Salahudin Gaffar SH., MH
Dosen Pasca Srajana IUA Jakarta
Cendekiawan Muslim Muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *