21 Februari 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Menguji Kesaktian Pancasila?

3 min read

DONGGONEWS.com | Sebagai bangsa yang beragam, majemuk dan bhineka, pada hakikatnya bangsa Indonesia dalam tantangan yang tidak simpel dan tidak sederhana.

Sebagai negara kepulauan, ratusan suku, budaya, bahasa daerah, adat
istiadat, agama, dan keyakinan kepercayaan. Merupakan sebuah mozaik, yang double audio. Salah tabuh dan keliru memainkan, akan terjadi suara
berisik, gaduh, tidak jelas irama dan bahkan bisa merusak gendang telinga.

Tapi, bila benar dan tahu cara menabuh dan memainkan, maka akan indah, merdu dan menjadi irama yang nikmat disetiap orang yang mendengarkannya. Itulah perumpamaannya.

Instrumentalia Indonesia, adalah instrumentalia yang harus dimainkan secara apik baik. Irama indonesia tak boleh berserakan. Di situlah pentingnya perekat, kesepakatan nilai nilai bersama.

Eksistensi pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara,  dalam
sejarahnya telah mengalami banyak “ujian” dari berbagi sumber, dalam dan luar negeri.

Puncaknya, adalah Pemberontakan G30S, yang diotaki oleh aktivis PKI,
melalukan upaya kudeta terhadap Presiden Sukarno, dan mengusung misi
merubah ideologi Pancasila, dengan ideologis komunisme. Sebuah tragedi
bersejarah dan ujian yang nyaris, menumbangkan pancasila.

Ujian kesaktian Pancasila masa lalu, telah berhasil dilewati. Upaya kudeta
dan gerakan terrencana, sistematis, dan masif PKI untuk mengganti ideologi negara, telah berhasil dikandaskan. Pancasila lulus dari ujian berat itu.

Ujian pancasila hari ini,  tak kalah sulit, dahsyat dan bahkan bertubi
tubi. Ujian tentang nilai nilai dan perilaku, sifat, tabiat dan karakter. Pun juga ujian kedaulatan dan persatuan.

Pertama, nilai-nilai Ketuhanan yang berbasis pada ajaran religius, tidak
jarang mengganggu dan menguji keberpancasilaan kita. Ketika agama
dinistakan, kelompok agama didiskriminasi, agama di kambing hitamkan,
agama di eksploitasi. Sesungguhnya merupakan ujian yang sulit. Mampu
melewati ujian ini dalam konteks kita bernegara bangsa, maka kita akan kuat dan sukses luar biasa.

Kedua, suguhan tentang pelanggaran HAM,  kecil ataupun berat,  yang
terpublis maupun disembunyikan, merupakan ujian berat bagi kita. Kasus
pembunuhan dan pembantaian manusia,  atas dasar apapun, jelas merupakan tindakan biadab dan tidak beradab. Apalagi itu terjadi sesama anak bangsa Indonesian. Dalam hal ini,  tidak boleh ada pembiaran, tidak boleh ada ruang. Bahwa negara kita bukan negara zombi,  tetapi negara yang berperi kemanusiaan. Semoga berpancasila kita, lulus dari ujian ini.

Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.
Indonesia merdeka dari penjajahan dan kolonialisme,  adalah karena
persatuan. Membangun persatuan tidak saja cukup dengan kata kata,  tetapi dengan jiwa dan dengan saling berperasangka baik, antar sesama bangsa, merangkul bukan memukul, mengajak bukan menginjak. Mufakat adalah tentang kedewasaan manusia, dalam saling menerima perbedaan antara yang satu dengan lain.

Keempat, pilihan demokrasi pancasila dengan selalu mengedepankan
musyawarah untuk mencapai mufakat, adalah salah satu nilai dasar pancasila yang sangat luhur. Ujian berpancasila kita adalah, jika ada permufakatan jahat untuk mengganggu Indonesia, kelicikan dalam  berdemokrasi, ketidak santunan dalam mengemukakan pendapat.  Pancasila harus lulus dari ujian ini, sehingga kita senantiasa kian mekar dalam berdemokrasi, dengan nilai moral sebagi fondasi.

Kelima, jika nilai dan praktik keadilan ditegakkan. Maka tidak ada
konflik, tidak ada krusuhan, tidak ada syakwasangka, tidak ada
kemiskinan, tidak ada ketakutan. Indonesia berkeadilan dalam semua
asfek, masih menjadi ujian berpancasila kita. Indonesia berpancasila
adalah Indonesia yang membangun karakter adil, sebagai sikap penting dalam semua perkara berbangsa. Tidak boleh ada diskriminasi antar sesama anak bangsa.

Jika ujian ujian berpancasila itu bisa kita lewati dengan sungguh-sungguh,
maka Pancasila akan selalu teruji kesaktiannya. Mari membawa Pancasila kita selalu memiliki daya lekat yang kuat, menjadikan Pancasila tangguh dalam semua ujian dan tantangan.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila.

Oleh: Dr. Lalu Sirajul Hadi
(Dewan Penasehat BPC Perhumas Mataram – NTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *