21 Februari 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Kontestasi Iman Dalam IMAN (Part II)

8 min read

Oleh
Nida’an Nuruddin Zanky

  • Kategorisasi Tipe Pemilih

DONGGONEWS.com | Jakarta,160520-Dua hari lalu DONGGONEWS.com menurunkan artikel ‘Kontestai Iman Dalam IMAN’ ditulis secara bersambung. Bagian kedua, membahas ‘Tipe Pemilih’ dalam pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) kabuapaten Bima. Secara teoritis menurut Firmansyah dalam Ghazaly Ama La Nora, ada empat jenis kategorisasi tipe pemilih. Pemilih rasional, kritis, tradisional, skeptis.

Dalam marketing politik (political market) Pilkada ada dua tipologi bisa digunakan identifikasi calon pemilih. Yakni pemilih berorientasi kebijakan (policy problem solving) dan orientasi ideology (ideology orientation).

Singkatnya, pemilih berorientasi kebijakan akan menggunakan beberapa catatan kinerja dan reputasi calon dipilih. Sedangkan pemilih orientasi ideologi lebih mengedepankan kesamaan pemikiran serta latar belakang pemilih dengan calon yang dipilih.

Faktor penyebab terjadinya, terutama latar belakang pemilih. Berkaitan pendidikan yang bisa diakses, kemampuan ekonomi, sampai kehidupan keluarga maupun masyarakat pemilih. Sekalipun media massa punya pengaruh besar, tetapi dalam beberapa level masyarakat tidak bisa digeneralisasi bisa pengaruhi ke semua aspek.

Level masyarakat tertentu, terutama masyarakat kelas bawah lingkungan lebih punya peran penting. Ketimbang framing media massa lebih punya pengaruh pada masyarakat kelas menengah. Menyebabkan Fery Zulkarnain (2009-2014), maupun Dinda-Dahlan (2014-2019, menang rajin menyambangi kunjungan ke masyarakat akar rumput. Begitu juga dilakukan Anies Baswedan di DKI Jakarta.

Mendatangi calon pemilih penting untuk menyampaikan gagasan kedua pasangan calon karena tidak semua masyarakat punya akses ke media massa. Juga tidak semua bahasa politik dalam acara debat maupun kampanye lewat media bisa dipahami. Pertemuan langsung memungkinkan terjadi komunikasi saling bertukar gagasan. Dengan bahasa membumi dan bisa dipahami pemilih dengan calon yang dipilih.

Dalam memahami perilaku pemilih, ada empat katergorisasi karakter perlu diperhatikan: Pertama, pemilih rasional. Pemilih ini memiliki orientasi tinggi pada persoalan kebijakan (policy problem solving), berorientasi rendah faktor ideologi. Mengutamakan rekam jejak dan program dijanjikan. Sekaligus menganalisis kemungkinan program-program tersebut relevan dikerjakan atau tidak. Seperti kajian Dista Kurniawan mengenai “Pengaruh Hasil Survei tentang Elektabilitas Capres-Cawapres 2014 Terhadap Perilaku Pemilih di Surabaya” di jurnal Review Politik. Pemilih rasional tidak begitu peduli faktor ideologi suatu partai dari kandidat tertentu.

Sejak pemilihan langsung presiden (Pilpres) 2014, maupun pemilihan kepala daerah (Pilkada) pemilih sudah mampu melihat kandidat sebagai persona atau pribadi. Sedangkan faktor ideologi yang hadir bersamaan partai politik di belakang kandidat sudah tidak lagi menjadi poin penting. Pemilih masih mempunyai prinsip kuat berideologi.

Kecenderungan ini juga dibaca partai politik. Terbukanya Prabowo Subianto menerima Anies sebagai calon Gubernur Jakarta dari Partai Gerindra. Meski Anies tim sukses Presiden Joko Widodo waktu pilpres sebelum. Menunjukkan partai sadar bahwa pemilih lebih melihat figure individu bakal calon ketimbang partai penggusung dan pendukung.

Fenomena sama juga berlaku saat PDI Perjuangan mengusung Ahok maju calon wakil gubernur (Cagub) Pilkada DKI Jakarta 2012. Koalisi PDIP-Gerindra. Ahok merupakan pasangan Cagub Joko Widodo. Dalam Pilpres 2014, konstelasi berubah. PDIP-Partai Gerindra berada dalam posisi berhadapan (head to head). PDI menjadi partai utama penyokong pemerintahan, sedangkan Gerindra menjadi partai oposisi.

September 2014, Ahok keluar setelah langkahnya sempat diisi aksi pengerek daya tawar wacana calon perorangan. Pengumpulan sejuta kartu tanda penduduk (KTP). Akhirnya Megawati mengumumkan PDI mengusung Ahok tanpa harus bersyarat menjadi kader PDI.

Politik dalam aspek tertentu, aspek ideologi sebenar bisa masuk pada kategori pemilih rasional. Sebab, pertimbangan rasional tidak melulu mengenai kebijakan. Tetapi juga soal keamanan prinsip kehidupan diusung setiap pemilih. Sekalipun prinsip personal. Seperti agama, kesukuan dianggap tidak relevan cenderung kuno atau kaku. Tapi komunitas pemilih dasar ideologi, dianggap jaminan bagi keamanan lingkungan, keluarga, dan kehidupan mereka bisa menjadi alasan mereka tetap bisa bertahan hidup.

Kategori pemilih kritis merupakan gabungan antara pemilih menjatuhkan pilihan dasar kebijakan berdasarkan ideologi. Pemilih akan melihat figur secara personal dan program serta rekam jejak bakal calon. Juga akan melihat citra partai politik di belakangnya.

Kalau pemilih rasional melihat calon dari sisi personal. Sedangkan pemilih kritis pertimbangan lebih kompleks dan rumit. Proses jadi pemilih kritis terjadi dalam dua tahapan. Pertama, pemilih melihat ideologi partai politik mengusung. Kemudian melihat kecocokan calon dengan visi-misi (platform) partai politik. Kedua, tertarik lebih dulu pada figur calon. Kemudian melacak potensi partai politik mengusung.

Tahap ini, pemilih akan menganalisis berbagai hal sebelum menentukan pilihannya. Bagaimana PDI bisa mengupayakan program Ahok sebagai gubernur jika terpilih? Misal, pemilih akan menimbang dengan mengamati citra PDI. Juga sebalik pemilih akan bertanya bagaimana Partai Gerindra bisa mensuport program rencana kerja Anies Baswedan. Pertimbangan semacam ini bisa menjadikan pemilih kritis menentukan pilihan di detik-detik akhir jelang pencoblosan.

Tiba padan tahapan tertenu, apabila pemilih tidak menemukan yang diharapkan dari kedua pilihan, maka akan memilih opsi ketiga, golongan putih (Golput). Yang akan berubah menjadi karakter pemilih pemilih skeptis. Tidak memiliki orientasi ideologi cukup tinggi dengan partai atau kontestan. Pemilih skeptis nyaris mirip pemilih kritis. Betis, beda tipis dengan pemilih kritis. Mereka tidak merasa terikat ideologi apapun. Cenderung menganggap kebijakan dijanjikan partai maupun kontestan tidak akan membawa perubahan signifikan.

Kategori pemilih tradisional: Memiliki orientasi ideology sangat tinggi. Ukuran kedekatan budaya, nilai, asal, faham, agama masih merupkan mayoritas. Robert Rohrscheneider dalam The Strain of Representation (2002: 150) menyampaikan, pemilih tradisional paling mudah dimobilisasi selama periode kampanye. Loyalitasnya tinggi. Apa dikatakan pemimpin kelompok (leader community) adalah sabda yang tidak akan pernah terlihat salah atau keliru. Jenis pemilih ini bisa menjadi sangat berbahaya akan menjadi fanatic buta.

Survei dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 31 Maret-5 April 2017, menunjukkan tiga alasan terbesar membuat pemilih menentukan pilihannya pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Di posisi puncak, 20 persen pemilih memilih berdasarkan bukti nyata hasil kerja calon yang ada. Di posisi kedua, faktor pertimbangan kesamaan agama, 16,7 persen. Posisi ketiga pemilih menimbang pengalaman Cagub di pemerintahan, 16,5 persen.

Hasil tersebut menunjukan pemilih berorientasi kebijakan jumlah sedikit, lebih besar pemilih berbasis ideology. Yang menentukan pilihannya berdasarkan faktor kesamaan agama. Anda termasuk kategorisasi pemilih tradisional, pemilih skeptis, pemilih rasional, pemilih kritis? Yang jelas IMAN, dengan pelihan jargon IMAN inshaa Allah aman. Asumsinya pemilih kabupaten Bima, walau ada kurang rajin ke masjid jika menyangkut agama. Pilihannya to be our to be, hidup atau mati.

  • Komponen Dagang Politik.

Jam IMAN menjadi salah satu komoditi ekonomi politik di pasar politik (political market). Dalam pemasaran politik layaknya pemasaran komersial harus memperhatikan elemen utama pemasaran. Yaitu product (produk), place (tempat), Price (harga), Promotion (promosi). Populer disebut marketing mix (bauran pemasaran).

  1. Product (produk) dalam pemasaran komersial, barang diproduksi ingin dipasarkan guna memenuhi kebutuhan pembeli. Niffenegger dalam Tabroni membagi produk politik tiga kategori: Pertama, Party platform (platform partai). Kedua, Past record (catatan tentang rekam jejak masa lampau), Ketiga, personal characteristic (ciri pribadi).
  2. Place (tempat) dalam konteks politik, tempat memajang produk-produk kampanye. Seperti foto, baliho, poster dan lain. Sangat berperan bagi kesuksesan seorang kandidat. Atau partai politik dikenal masyarakat dengan harapan meraih suara terbanyak dalam pemlihan. Tempat juga bisa berupa ruang di media massa. Contoh, rubrik di surat kabar disediakan wawancara para poitisi. Begitu pun acara di televisi dan radio. Mengahadirkan dialog interaktif dengan politisi, masyarakat dapat mengetahui program kerja dan ide politisi. Intenet juga dapat dijadikan tempat sangat strategis memperkenalkan politisi dan partai politiknya. Saat ini tengah menjadi tren kalangan politisi menggunakan media sosial intenet ajang promosi meraup simpstisan.
  3. Price (harga), pemasaran produk komersial suatu produk memiliki kualitas baik harga lebih tinggi dibandingkan produk kualitas kelas dua. Politisi partai politik besar, ternama dan memiliki track record baik tentu memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan politisi partai gurem. Atau partai kecil belum memiliki rekam jejak berarti. Dalam sistem demokrasi, proses pemungutan suara dapat dilihat sebagai pelimpahan hak dan kewajiban kepada seorang kandidat guna mengatur kehidupan semua individu dalam masyarakat. Dibutuhkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat memilih politisi/partai politik. Itulah harga harus dibayarkan pemilih sewaktu pemungutan suara. Tentu kepercayaan dan keyakinan akan lebih besar diberikan kepada produk berkualitas. Dibandingkan produk kualitas kurang baik.
  4. Promotion (promosi), dalam konteks pemasaran politik dapat berbentuk kampanye menggunakan berbagai macam media komunikasi. Baik media cetak, maupun elektronik. Komunikasi antarpribadi didukung teknik-teknik komunikasi. Menampilkan slogan, jargon, citra, program kerja partai politik dan politisinya. Dikemas dalam bentuk pesan menarik dan mudah diterima masyarakat. Biasanya promosi bentuk kampanye disertai penampilan artis. Disamping menghibur juga sebagai daya tarik bagi masyarakat menyimak isi kampanye.
    Peran Spin Doctor Pemasaran Politik
    Salah satu cara pemasaran politik melalui kampanye. Dalam kampanye ide, gagasan, nilai, ideologi, cita dan program kerja politisi/partai politik orientasi lebih banyak pada tataran penyadaran, sikap dan perubahan perilaku menerima hal-hal baru, disampaikan kepada masyarakat.
    Menurut Kotler dan Roberto dalam Cangara kampanye, sebuah upaya diorganisasi satu kelompok (agen perubahan) untuk mempersuasi target agar bisa menerima, memodifikasi atau membuang ide, sikap dan perilaku tertentu.
    Menyelenggarakan kampanye tidak mudah, tidak sedikit kampanye mengalami kegagalan. Supaya tidak gagal dibutuhkan peran spin doctor. Ahli merancang kampanye dengan baik agar kampanye sukses dilaksanakan.
    Spin doctors politik juga dikenal sebagai manajer kampanye. Karena Spin doctor menggunakan prinsip public relations dalam proses kerjanya. Sedangkan public relations dalam kegiatan tidak lepas dari prinsip manajemen. Kegiatannya memiliki tahapan tertentu tidak dibuat secara sembarangan. Ikut-ikutan. Tetapi berdasarkan penelitian terlebih dahulu, kemudian membuat perencanaan, komunikasi (aktuating), diakhiri evaluasi.
    Studi perencanaan komunikasi, ada beberapa langkah harus ditempuh dalam pelaksanaan kampanye. Menurut Cangara ada beberapa langkah dapat dilakukan spin doctor dalam perencanaan komunikasi kampanye. Yaitu,penemuan dan penetapan masalah, menganalisis khalayak, merumuskan tujuan (objective), memilih media, mengembangkan pesan, merencanakan produksi media, merencanakan manajemen program, monitoring serta evaluasi.
  5. Menganalisis masalah. Spin doctor terlebih dahulu harus menganalisis masalah yang terjadi di masyarakat terkait dengan kebutuhan yang belum terpenuhi di masyarakat. Masalah apa terjadi di masyarakat. Hal ini diperlukan untuk menentukan tema kampanye yang akan disampaikan. Menjadi acuan menentukan tujuan, jenis media digunakan. Serta efek apa akan dicapai dari kegiatan kampanye.
  6. Menganalisis khalayak dilakukan agar mengetahui siapa khalayak kampanye dilakukan. Khalayak memegang peranan sangat penting. Semua aktivitas kampanye diarahkan ke mereka. Ada beberapa perlu diketahui berhubungan khalayak. Yaitu Jenis kelamin, usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, latar belakang ekonomi, latar belakang sosial dan budaya. Kepercayaan dianut, partai politik dianut khalayak, ketersediaan teknologi. Misal, jaringan telekomunikasi dan mobilitas transportasi. Perlu diketahui untuk menentukan strategi menyusun rencana kampanye. Termasuk pemilihan media akan digunakan dan jenis pesan disampaikan kepada masyarakat saat kampanye.
  7. Merumuskan tujuan berdasarkan hasil analisis masalah dilakukan spin doctor. Kemudian ditetapkan tujuan ingin dicapai kampanye. Tujuan kampanye melahirkan tema kampanye. Spin doctor harus merancangnya memenuhi syarat. Pendek, padat mudah diingat, segar dan aktual, menjadi slogan populer, mewarnai program dilaksanakan. Menarik perhatian khalayak supaya menjadi motivasi pengurus, anggota partai menjadi fokus perhatian partai.
  8. Memilih media digunakan dalam kampanye harus disesuaikan dengan khalayak. Baik segi ketersediaan dan teknologi mereka miliki maupun kemasan pesan disampaikan. Misal saja kita menggunakan media televisi untuk menyampaikan pesan kampanye.Ternyata, khalayak dituju tidak memiliki media televise. Maka mengakibatkan terjadi kegagalan kampanye dan pemborosan dana.
  9. Mengembangkan pesan. Menurut Albert Mehrabian dalam Irianto, dampak pesan komunikasi tujuh persen bersumber pesan verbal, 38 persen. Dari nada suara, tinggi rendah suara dan bunyi lain, serta 55 persen pesan nonverbal. Menunjukkan pesan nonverbal sangat besar dampak penyampaian pesan. Misal, seorang kandidat presiden dalam kampanyenya menyatakan dia memberantas korupsi sampai ke akar-akar. Tetapi intonasi tidak tegas, tidak semangat, dan mimik wajah tidak bersunguh-sunguh, membuat khalayak merasa kurang yakin kesungguhan kandidat. Tugas seorang spin doctor selain mendesain pesan yang mempersuasi khalayak, juga mendesain bahasa nonverbal. Mulai dari mimik wajah, gerakan tubuh. Bahkan model dan warna busana dikenakan kandidat.
  10. Merencanakan produksi media. Perencanaan produksi media mencakup penyusunan anggaran kampanye melalui media komunikasi. Memilih media tepat sesuai sasaran khalayak yang disesuaikan anggaran produksi media telah direncanakan. Merencanakan media apa yang akan memproduksi pesan-pesan kampanye yang kita sampaikan. Komunikator, juru kampanye serta penyusunan pesan disampaikan melalui media telah dipilih.
  11. Merencanakan manajemen pembagian tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kampanye, pembuatan jadwal kegiatan kampanye (time shcedule). Ini tidak kalah pentingagar semua kegiatan kampanye dapat terjadwal baik. Sehingga tidak ada jadwal kampanye bertabrakan. Semua kegiatan kampanye dipersiapkan dengan baik sebelum kegiatan berlangsung.
  12. Monitoring dan evaluasi. Dari semua tahapan kegiatan telah dilakukan, maka diperlukan monitoring, atas proses pelaksanaan sebuah program dilaksanakan sesuai rencana awal. Sedangkan kegiatan evaluasi program dilakukan untuk mengukur hasil kampanye meleset atau tidak dari taget.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *