28 Februari 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Haji Momen Revolusi Lahir Batin Menuju Kesejatian Diri Manusia

3 min read

Mengutip sebuah kata pendahuluan buku Dr. Ali Syariati halaman pembukaan buku karyanya Hajj (The Pilgrimage) diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka menjadi Haji. Pada hakikat, ibadah haji evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan falsafah penciptaan Adam.

Gambaran selanjut, pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji sebuah pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi Islam’, dan ‘ummah’.

Tulisan Dr.Syariati pada pembukaan di atas. Kemudian dilanjutkan Ilustarsi Rasional. Menurut Syariati, “Allah adalah Sutradara. “

Tema diciptakannya, tindakan orang-orang yang terlibat, pemeran utama terdiri dari Adam, Ibrahim, Hajar, dan Setan. Lokasi kejadiaan Masjid al-Haram, daerah Haram, Nas’a, Arafah, padang Masy’ar dan Mina.

Simbol-simbol penting. Ka’bah, Shafa, Marwah, siang, malam, matahari terbit, matahari terbenam, berhala dan upacara kurban. Pakaian dan make up-nya ihram, halgh dan taqshir (mencukur sebagian rambut kepala).

Yang paling terakhir, peran-peran dalam pertunjukkan ini hanya seseorang. Dirimu sendiri. Didalam ritual ibadah haji semua bangsa tak peduli SARA adalah aktor penting di dalam Pagelaran ini. Kita berperan sebagai. Adam, Ibrahim dan Hajar dalam Konfrontasi antara ‘Allah dengan Setan’.

Haji dalam pemahaman Syariati, sebuah kepulangan Manusia kepada Allah Yang Mutlak. Yang tidak memiliki sebuah keterbatasan dan tidak dapat dipadankan sesuatu apapun.

Kepulangan itu sendiri dalam pandanganya sebuah gerak menuju suatu kesempurnaan, kebaikan, keindahan, pengetahuan, nilai, dan fakta.

Dengan melakukan suatu perjalanan berujung pada keabadian ini. Pada dasar tujuan manusia bukan untuk binasa melainkan berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah melainkan guna mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji. Dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritual. Dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.

Semua itu pada akhir mengantarkan sesuatu pada ke-Universalan dengan Nilai-nilai kemanusiaan.

Ihram yang dikenakan menurutnya perlambang pola, prefensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. “Tak dapat disangkal bahwa pakaian pada kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau satu kelompok dengan lainnya,” tulis Syariati.

Syariati berpendapat, pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya.

Di Miqat. Tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Dalam Miqat ini, SARA harus dilepaskan tak terkecuali pakaian dikenakan sehari-hari membedakan sebagai serigala (melambangkan kekejaman dan penindasan). Tikus (melambangkan kelicikan). Anjing (melambangkan tipu daya). Atau domba (melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan.

Hanya mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini. Seorang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi pakaian ini. “Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tandas Syariati.

Selanjutnya, Ka’bah dikunjungi di tengah-tengah Masjidil Haram. Dalam pemahaman Syariati mengandung pelajaran amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana terdapat Hijr Ismail yang arti harfiah pangkuan Ismail.

Ali syariati secara tersirat menunjukkan kepada kita bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka. Melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia.

Dengan kata lain, orang sudah berhaji harus menjadi manusia “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelum haji.

Bukan malah berhaji dan pulang dengan sikap lebih buruk sebelum berangkat. Haji Tomat (berangakat tobat pulang kumat) Dan ini kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan berlibur ke tanah suci di musim haji. Tidak lebih dari itu! Jakarta, (31/05/20). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *