13 Juni 2024

DONGGONEWS.com

Kritis & Berkemajuan

Kontestasi Iman Dalam IMAN

4 min read

Oleh:
Nida’an Nuruddin Zanky

DONGGONEWS.com | Artikel ‘Kontestai Iman Dalam IMAN’ akan ditulis secara bersambung. Bagian pertama, mengupas tentang jargon IMAN. Bagian kedua, membahas tipe pemilih Pilpres/Pilkada. Bagian ketiga, kiat memenangkan sebuah kontestasi. Bagian keempat, fardun a’in dan fardu kifayah bagi Dou Donggo menangkan IMAN.

‘IMAN’ tulisan capital berbeda dengan tulisan ‘iman’ huruf kecil. Apa perbedaan kedua tulisan tersebut. Akan dibahas lebih rinci pada tulisan bagian pertama. Dengan demikian pembaca bisa menangkap makna judul tulisan kata ‘IMAN dan ‘iman’.

Perkataan iman berarti ‘membenarkan’. Surah At-Taubah: 62 mengatakan, “Muhammad membenarkan kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman.” Iman ditujukan kepada Allah, kitab kitab dan Rasul. Iman dua jenis: Iman hak dan Iman batil.

Definisi Iman menurut hadist tambatan hati diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan utuh. Memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan identik dalam satu keyakinan. Maka orang beriman disetiap ucapan dan tindakan sama. Juga disebut orang jujur memiliki prinsip. Istiqomah dalam pandangan dan sikap hidup.

Ali Bin Abi Thalib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.” Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.” Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

Dalam implementasi kehidupan sehari-hari banyak ditemui orang alim, intelek, pintar, tapi munafik. Apa munafik? Secara bahasa munafik berasal dari kata nafaqa,nifaqon berartarti mengadakan, mengambil bagian dalam, membicarakan sesuatu yang dalam pandangan keagamaan. Pengakuan dari satu orang ke lain orang berbeda. Dalam pengertian syara’, munafik orang lahiriah beriman padahal hatinya kufur.

Ciri orang munafik banyak disebut didalam alqur’an, dan hadist. Bermuka dua, menampilkan sesuatu bertentangan dengan hati nuraninya. Seolah memberikan kesan persahabatan, kasih sayang. Bersikap tulus dan simpatik. Padahal dalam hatin menyembunyikan perasaan sebalik. Lidah bercabang dua, ketika berhadapan orang memuji dan menyanjung. Namun di belakang orang mencela dan mengumpatnya.

Orang munafik selalu berkhianat. Sangat berbohong,amanat diberikan tidak disampaikan pada yang berhak. Bila berbicara selalu berdusta setiap penuturan tidak dapat dipercayai. Mereka tidak segan bersumpah palsu untuk menguatkan kebohongan dilakukan. Sumpahnya hanya sebagai perisai menyelamatkan diri.

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Yaitu jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhori). Dalam alqu’an, At-taubah : 68, An-Nisa’ : 138 dan 147. Dijelaskan kelak, di alam kubur orang memiliki sifat munafik akan disiksa sesuai dengan apa diperbuatnya.

IMAN Jargon Politik:
Iman (huru kecil) dijelaskan diatas dalam pengertian epistemelogis. Sedangkan IMAN kontek kontestasi pesta demokrasi. Diksi perhekatan Pilkada 2020-2025. Sebuah singkatan nama pasangan bakal calon bupati (Bacabu) Kabupaten Bima, Irfan, dr.- Herman Alfa Edison. Untuk memudahkan ingatan konstituen diperpendek menjadi IMAN (huruf capital).
IMAN, huruf capital sekaligus dijadikan jargon pasangan Irfan-Herma. Jargon sinonim semboyan, motto. Dalam ilmu komunikasi disebut symbol. Tujuan memberikan kesan IMAN pasangan Bacabu agamis. Disesauikan kultur pemilih Bima, dikenal sangat religious. Teorinya, kalau praktek sama saja kebanyakan pemilih lain di Indonesia.

Sebagaimana disinyalir Anggota Fraksi DPR RI, Drs H.Zainul Arifin, dirilis televisi seantero langit Indonesia,”Orang Bima yang sholat dibawah 20 porsen,” katanya. Artinya orang Bima 80 porsen tidak sholat. Kualitas beragamanya rendah. Padahal, 1968, Bima, dikenal Serambi Kiri Mekkah. Apabila ditarik ke Donggo-Soromandi, berapa porsenkah yang sholat? Wallahu’alam. Sholat, satu diantara lima rukun islam. Inti tenaga (core energy) beragama sholat. Ashoalatun imaduddin, sholat itu tiang agama. Analogi, rumah kalau tidak bertiang akan runtuh.

Tetapi tidak usah gusar (hehe). Karena kondisi tersebut bukan terjadi di Bima saja. Secara nasional mengalami hal sama (nationalism degradation). Keterkikisan nilai moralitas bangsa tergerus Gelombang westernisasi (pengaruh Negara luar) masuk ke Negara kita. Fakta, tidak bisa dipungkiri! Sebuah konskuensi logis dampak kemajuan science dan technology. Yang harus dipulihkan secara berjamaah oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.

Kristalisasi Kultur Bima
Personafikasi (sifat insani) IMAN secara special akan mencuri perhatian pemilih supaya terkesan agamis. Itu syah-syah saja. Perspektif ilmu komunikasi, manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin behenti berkomunikasi. Dalam berinteraksi manusia menggunakan symbol. Atau lambang khusus untuk menyatakan suatu maksud tertentu. Lambang bahasa, lisan maupun tulisan disebut lambang verbal. Lambang-lambang lain yang bukan bahasa disebut lambang non verbal.

Penggunaan simbol dalam komunikasi bisa sangat signifikan. Sudah ada sejak zaman nenek moyang. Pictograph (makna gambar) terukir pada temuan dari zaman purbakala bukti otentik.Tentu penggunaan simbol mengalami banyak perubahan dari zaman ke zaman. Dulu manusia gunakan hieroglyph (tulisan dalam bentuk gambar mengandung arti khusus). Sekarang kita menggunakan emoji.Misalnya, ber-WhatsApp tanda jempol (bagus),jempol terbalik (tidak senang), gambar orang senyum(senang), gambar jatung hati (menyatakan cinta), dan seterusnya.

Didalam simbol komunikasi (symbolic communication), tanda dan makna. Tanda sesuatu bersifat fisik dapat dipersepsi indera kita. Makna hasil dari penandaan. Bukan konsep mutlak dan statis. Sebab pemaknaan dapat berubah dipengaruhi banyak faktor. Karena perbedaan konteks, perubahan zaman, latar belakang, pengalaman. Bahkan mood dari pemberi makna.Contoh, warna merah dimaknai sebagai amarah. Dalam konteks berbeda, warna merah berarti berani.

Semua simbol pada saat aktifitas kampanye Pilkada mutlak digunakan. Esensi penggunaan simbol diwaktu berkomunikasi agar pesan disampaikan jelas dan dapat ditangkap sepenuh penerima pesan (pemilih). Kita bisa menggabungkan jenis simbol berbeda untuk mengilustrasikan konsep kompleks cepat dan mudah. Ungkapan sederhana seperti “Oh” memiliki arti kompleks. Apabila menggabungkan suara dan bahasa tubuh (tone and body language) berbeda.

Namun perlu diperhatikan, perbedaan latar belakang budaya dapat membuat sebuah lambang memiliki makna berbeda. Sebuah simbol tidak mewakili sebuah makna. Manusia memberikan pemaknaan terhadap simbol tersebut. Interpretasi terhadap sebuah simbol bisa berbeda tergantung dari konteks, subkonteks dan sejarah simbol dalam lingkungan tertentu.

Penetapan simbol “IMAN” mengkristalisasikan nilai kultur masyarakat (pemilih) kabuapten Bima. Artinya, bentukan makna melalui proses komunikasi simbol dan interaksi pasangan, dr.H.Irfan-H.Herman Alfa Edison,SE, MM. Sangat mewakili kepribadian IMAN. Yang sederhana (low profile), dermawan dan agamis. Pilihan symbol perjuangan yang cerdas. Bagi pemilih kultural senang akan mudah berempati pada pasangan IMAN. Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *